KATEGORI TULISAN MAS BAMBANG

Tampilkan postingan dengan label Kupas Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kupas Kampus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Kamis, 10 November 2011

Abuse of Power

Nur Riyantoh adalah anak seorang pejabat kampus Universitas Internasional Nasional  yang bertugas sebagai Kepala Biro Keuangan. Kebetulan, Nur Riyantoh pun merupakan bendahara di sekolahnya.


Suatu hari, ia ketahuan menggunakan uang kelas itu untuk keperluan pribadi. Dipanggillah ia ke ruang guru.

Guru: "Mengapa kau gunakan uang itu untuk kepentinganmu sendiri? Padahal itu kan uang milik temanmu! Apakah kau sedang terdesak?"

Nur Riyantoh: "Tidak, Bu..."

Guru: "Lalu mengapa? (Nur Riyantoh hanya terdiam.) Cepat katakan! Jika tidak, akan saya laporkan kepada ayahmu!!"

Nur Riyantoh: "Laporin aja, Bu ..., toh ayah saya yang mengajarkan saya."

Selasa, 08 November 2011

Kata Mas Bambang: Jangan Terlalu Arogan Jadi Dosen, Nanti GONDOK Sendiri

Pak Nazra terkenal sebagai Dosen yang galak. Suatu hari beliau mengajak diskusi dengan melempar pertanyaan,


 “Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD45?”


Karena mungkin kelas tegang, tak ada seorang muridpun yang mau mulai memberi komentar atau menjawab.

Selang beberapa menit kelas masih diam, Pak Nazra menunjuk Si Abang, mahasiswa kritis stadium 4.

“Bang! Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD 45?”

Dengan tegas Si Abang menjawab, “Baik-baik aja, Pak!”

Senin, 07 November 2011

Menyoal Humor Dekan

Seorang Dekan Fakultas Sholat dan Haji kembali dari makan siang dalam kondisi mood yang sangat bagus dan memanggil seluruh Dosen untuk mendengarkan beberapa humor yang baru saja dia peroleh. Semua Dosen tertawa, kecuali seorang Doktor Ekonomi Islam yang tidak tertawa.


"Ada masalah apa?" keluh si boss, "apakah Ibu tidak memiliki selera humor?"

"Saya tidak perlu tertawa," kata Doktor Ekonomi Islam  itu "Saya mengundurkan diri hari Jumat ini..."

Sabtu, 05 November 2011

Ekonomi yang Dinamis

Seorang ekonom kembali untuk mengunjungi Kampus lamanya. Dia tertarik dengan pertanyaan ujian yang sedang dilaksanakan dan meminta profesor lamanya untuk menunjukkan beberapa.

Ia terkejut karena soal ujian yang dibagikan persis sama dengan yang ia kerjakan 10 tahun yang lalu! Ketika dia bertanya tentang hal ini profesor menjawab:

"Pertanyaan-pertanyaannya memang selalu sama - jawabannya yang berubah!"

Kamis, 03 November 2011

Rencana Anggaran Belanja Universitas

Rektor sebuah Universitas Internasional Nasional berkata kepada dekan Fakultas Sains & Teknologi,

"Mengapa saya selalu harus memberikan kalian begitu banyak uang, untuk laboratorium dan peralatan yang mahal? Kenapa kau tidak bisa menjadi seperti Fakultas Syariah, semua yang mereka butuhkan adalah anggaran untuk pembelian buku, kertas, dan keranjang sampah."

Lanjutnya,

 "Atau bahkan lebih baik, seperti Fakultas Usuludddin saja! Yang mereka butuhkan adalah pensil dan kertas saja...!"

ISWANTRO Sulit Bangun Pagi

Iswantro sangat kesulitan untuk bangun pagi dan selalu terlambat sampai Fakultas. PUDEK-nya, GM Muslimat, memarahinya dan mengancam akan memecatnya jika ia tidak berusaha memerbaiki masalahnya itu.

Maka Iswantro pergi ke dokter langganannya, yang kemudian memberinya sebuah pil dan menyuruhnya untuk meminumnya sebelum ia tidur. Iswantro tidur sangat nyenyak, bahkan ia bangun 2 jam lebih awal dari waktu yang diaturnya pada jam alarm. Ia menikmati makan pagi yang enak dan berangkat kerja dengan ceria.

"Pak GM Muslimat," katanya, "Pilnya benar-benar bekerja!"

"Bagus kalau begitu," kata Pak GM Muslimat, "tapi kemarin kamu ke mana Is?"

Selasa, 25 Oktober 2011

Menyoal Mahasiswa Perokok ; Reputasi dan Uang yang 'Tergadai'

Asap itu kian tebal. Menari-nari diudara seiring dengan mengawang-awangnya pikiran, imajinasi, khayalan, dan inspirasinya. Hisapannya semakin dalam. Hisapan yang khas ala perokok dan sesempurnanya tarikan nafas. Tiupannya beragam. Ke atas berarti sedang bahagia dan selesai dari satu pekerjaan. Ke bawah berarti sedang berfikir keras dan atau bersedih. Mendatar berarti belum sarapan. Ke samping berarti sedang mencari solusi atau menghormati kolega sebelah. Jari-jarinya semakin terampil, bibirnya semakin hitam. Satu hal yang tidak disadarinya, predikatnya sebagai mahasaiswa, predikatnya sebagai kaum berpendidikan.

Ada kontradiksi mendalam. Rokok dan perokok memiliki reputasi buruk, terutama yang terjadi pada kalangan berpendidikan. Cerminannya ada pada kode etik mahasiswa dan dosen, contohnya. Dimana rokok adalah hal yang terlarang di kampus, di fakultas, terlebih di kelas. Tidak pantas rokok dan perokok mengotori kampus, fakultas, terlebih kelas, begitulah anggapannya selama ini.

Ada lagi anggapan negatifnya. Bukan lagi kesehatan yang sudah “tidak mempan” untuk “menakut-nakuti” para mahasiswa perokok. Kebiasaan buruk yang membawa sugesti yang seakan bermuatan positif. Penghromatan dan penghargaannya kepada orang-orang sekelilingnya seakan ia nafikan, hanya demi sebatang rokok. Terlebih kehormatan dan reputasinya sendiri. Ia nafikan pula kesetiaan hati pacarnya demi memuaskan dirinya sendiri hanya dengan rokok. Pacarnya ia biarkan kecewa dengan perilaku merokoknya.

Ada lagi satu hal yang amat kasap mata dan rasional. Rupiah demi rupiah ia keluarkan hanya untuk mendapatkan rokok. Uang jajan yang sebenarnya orang tuanya berikan untuk makan, minum, fotokopi dan bensin, ia hamburkan untuk membeli rokok. Tentunya bukan ini yang orangtuanya harapkan. Bayangkan, jika Rp 12.000 sehari ia manfaatkan untuk hal lainnya, tentunya akan lebih bermakna dan berbekas rasanya. Terlebih jika ia tabungkan selama sebulan, ia jadikan uang iddle, niscaya hampir setengah juta rupiah ia dapat kumpulkan per bulannya. Enam bulan, ia sudah mampu membeli laptop dengan uangnya sendiri. Dua tahun, ia telah mampu membeli motor hanya dengan menyisihkan uang jajannya. Angka-angka yang fantastis dan rasional. Satu hal yang pasti, mustahil baginya kekurangan uang, tiris, minim dan bokek jika ia tidak merokok.

Tidaklah terburu-buru dan menafikan sisi lainnya. Adanya kemelut finansial ini hanya akan terjadi pada mahasiswa perokok yang masih menerima “sedekah” dari kedua orang tuanya. Sikapnya dianggap tidak etis dan keji, ketika ia mengkhianati orang tua mereka dengan rokok. Memang, saya sendiri mengatakan tidak pantas dan tidak tahu diri.

Namun jika merokok dilakukan  oleh mahasiswa berpenghasilan, ini tidak menjadi persoalan. Terutama bagi mereka yang orang tuanya memberi kebebasan anaknya untuk merokok atau tidak. Hal ini terjadi pada saya. Ya, saya berpenghasilan dan saya merokok dari pengahasilan saya, bukan dari sedekah orang tua. Menarik bukan?

Selain anggapan negatif dan kemelut mahasiswa perokok, ada lagi sisi positif yang patut dilihat. Selama ini rokok yang dikatakan merusak paru-paru itu dianggap memiliki kekuatan dan energi tersendiri bagi kesegaran fikiran, kejernihannya, inspirasi brilian dan dalam hal perencanaan langkah. Hal ini benar adanya, tanpa direkayasa dan didramatisir seperti yang dilakukan penulis-penulis lainnya.

Rokok juga dapat menjadi penghubung silaturahmi yang paten untuk kalangan masyarakat tingkat ekonomi manapun, termasuk mahasiswa. Perkumpulan dan majelis apapun akan menjadi lebih cair dan intens dengan kehadiran rokok, dan tentunya perokok. Rokok juga dapat membangkitkan semangat hidup, sekarang maupun yang akan datang. Masih banyak yang lainya. Kedewasaan berfikir, kepercayadirian, dan kebijaksanaan menjadi hal diantaranya.

Ada satu hal yang luput dari reputasi buruk rokok dan perokok. Kiranya tidak sedikit perokok yang hidup bahagia, sukses dan melahirkan karya-karya brilian. Sebut saja Barrack Obama, Antasari Azhar, Musthofa Bisri,  Nudirman Munir, bahkan Nadratuzzaman, mereka adalah tokoh-tokoh yang merokok. Rokok tidak berimpilikasi buruk terhadap reputasi, kekayaan dan jabatan.

Satu lagi soal reputasi, citra dan pandangan publik. Itu kan hanya anggapan dan persepsi saja. Sadarkah ketika kita menonton berita di TV, berita-berita itu sangatlah sarat akan muatan persepsi dan spekulasi. Tidak ada persoalan tentang reputasi dan citra. Sama saja seperti spekulasi dan gosip yang terjadi secara makro.  Tidak juga mahasiswa yang tidak merokok lebih baik daripada mahasiswa perokok. Bukan begitu? –Mas Bambang Simanjuntak-

Minggu, 23 Oktober 2011

Titi Kolo Mongso

Titi Kolo Mongso, saya bertemu seorang sarjana fresh graduate. Ia adalah lulusan pakultas ekonomi universitas swasta terkemuka –mahal- di ibukota. Kami berbincang-bincang dengan sangat intens hingga serius, bahkan krusial. Kiranya topik yang kami bicarakan sudah barang tentu dapat ditebak. Ya, pembicaraan yang memang krusial menurut saya.

Bahwasannya masa kuliahnya selama 8 semester telah membawanya menjadi seorang berpendidikan dan terdidik tentunya. Kini  dengan bangganya ia menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Yang lebih fantastis, ia lulus dengan IPK 3,77! Namun, kebanggaannya bukanlah berarti segalanya dalam hidupnya. Masa perjuangan saat kuliah ; pulang-pergi setiap harinya demi kuliah, energi, pikiran, waktu, biaya uang dan kesempatan yang telah ia keluarkan segalanya saat itu kini terasa lenyap tak berbekas, hampa penuh penyesalan, membawanya kepada ketidaktahuan yang nyata.

Bahwasannya ia tak tahu kini harus berbuat apa. Sudah di 14  perusahaan ia melamar pekerjaan, namun satupun dari perusahaan tersebut tak menerimanya. Entah mengapa, padahal ia terkenal kutu buku, pelanggan utama perpustakaan, jawara di setiap mata kuliah, bahkan sumber contekan terpercaya teman-temannya. Ironis. Mungkin karena 14 itu angka sial.

Bahwasannya proses interviewlah yang menurutnya telah membuatnya gagal pada setiap lamarannya. Ia mengakui sulit berbicara, menjawab, menjual kata-kata dihadapan interviewer. Ia merasa kurang cukup pengalaman untuk berkomunikasi. Satu point yang baik ketika ia menyadari kelemahannya. Menurut saya hal ini biasa saja. Maksud saya biasa terjadi pada mahasiswa “kepinteran” yaitu pandai meganalisis - sulit beraksi, pandai membaca - sulit bicara, pandai mengajari – dan sulit baginya untuk “merasa diajari”.

Kisah diatas membawa saya kepada sebuah pertanyaan. Yaitu apa yang bisa dilakukan untuk maksimal di bangku perkuliahan dan kehidupan yang baik setelah lulus? Saya lebih condong kepada ide berwirausaha, berdagang, berjualan saat kuliah, saat menjadi mahasiswa. Tentunya hal ini menjadi pilihan ngaco saya setelah mempertimbangkan dua hal. Pertama, berorganisasi yang hanya menjebloskan IPK ke liang lahat, mempertumpul otak dan melestarikan budaya korupsi. Kedua, magang (kerja sambilan) yang hanya memakan energi dan pikiran lebih, serta menumbuhkembangkan sifat rendah diri dan pesimistis.

Berbeda dengan sebagian orang disana, “berdagang” saat kuliah (karena terlalu mini untuk dikatakan dengan redaksi “bisnis”) bagi saya bukanlah mata pencaharian. Mengingat saya telah memiliki mata pencaharian lain untuk sekedar makan, bensin, rokok, dan fotokopi makalah. Satu hal yang pasti, bukanlah “sedekah” (red) dari orang tua yang saya jadikan mata pencaharian. Menurut saya, berdagang saat kuliah adalah sarana mencari pengalaman. Berinteraksi dengan orang banyak, menghadapi konsumen galak/rewel/aneh/lebay/ngondek, mengetahui pasar dan pangsanya, belajar rendah hati, berkata-kata, berkomitmen, dan sebagainya.

Namun, dibalik semua ini, ada beberapa kontroversi dan dilema kontradiktif yang terspekulasi disekitar kita. Bahwasannya mahasiswa pintar hingga kepintaran adalah calon manusia gagal. Data dari pikiran ngawur saya berkesimpulan bahwa penyebabnya adalah terlalu banyaknya pertimbangan dan analisis dalam hidupnya, sulitnya bekerjasama, memberi kepercayaan dan wewenang kepada orang, dan proyeksi berlebihan dan sesat yang membawanya kepada ketidakpercayadirian dan ketakutan besar akan kegagalan. Semua ini adalah sebab dari berlebihannya kepintaran akademis dan logika yang dimilikinya.

Bahwasannya pula dikatakan mahasiswa bodoh hingga kurang pintar adalah calon pebisnis sukses. Masih dari pikiran ngawur saya, penyebabnya adalah kekurangpintaran di sisi akademis yang memaksanya untuk berbisnis, tidak banyaknya opsi dan ide bisnis yang bergentayangan di pikirannya, IP dan IPK kurang besar yang melatihnya untuk tidak minder saat jatuh dari bisnisnya.

Dua hal diatas hanyalah sebatas provokasi nyeleneh dari pikiran saya yang hanya akan membuat anda bingung, mengurut dada dan gelenggeleng kepala  setelah membacanya.  Sebagai cooling down saya ingin katakan dua hal lagi yang tentunya semakin ngawur. Pertama,  berdaganglah sambil kuliah untuk meminimalisir terjadinya hal seperti kisah di awal. Karena kurangnya pengalaman untuk seorang sarjana semakin memperjelas kesuraman dan kegagalan di masa depan. Kedua, janganlah anda berdagang sambil kuliah untuk menghindari kegagalan di dua masa, yaitu masa kuliah hingga masa depan. Karena bukankah hidup ini butuh konsentrasi, fokus? Dan bukankah serabutan itu hasilnya tidak maksimal?

Lalu, apa yang bisa dipetik dari tulisan ngawur ini? Jawabannya adalah Titi Kolo Mongso (Titi kolo Mongso = Pada Suatu Ketika). -Mas Bambang Simanjuntak-