Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2011

"Best Before" atau "Expire"

Pada suatu hari, seorang pemuda memasuki sebuah toko yang dijaga oleh seorang pria. Pemuda itu melihat beberapa mi instan yang dijual murah dan melihat keganjilan disitu.

Pemuda : "Pak, mi instan ini best beforenya sudah lewat 1 bulan kok masih dijual juga?"

Paman : "oohh... itu kan best before, bulan ini masih better, terus bulan depan masih good. Jadi tidak masalah untuk dijual..."

Pemuda : "???".

Senin, 21 November 2011

Inilah Alasan Mengapa Laki-laki dikatakan "lebih" Dari Sekedar Wanita

KO : Komentar Orang

Meja kerja laki-laki berantakan
KO : Dia memang pekerja keras

Meja kerja perempuan berantakan
KO : Cewek apaan tuh? Ngerapiin meja meja aja nggak becus...

Laki - laki bekerja menikah
KO : Dia pasti akan bekerja lebih baik karena hidupnya bakalan lebih teratur

Perempuan bekerja menikah
KO : Deeuuuuuu.... paling entar habis hamil juga keluar dia...

Laki - laki ngobrol saat jam kerja
KO : Kalau udah ngomongin bisnis, lupa lunch

Perempuan ngobrol pada saat jam kerja
KO : Dasar tukang ngerumpi !!!

Laki-laki nggak ada di meja kerja
KO : Sedang tugas luar

Perempuan nggak ada di meja kerja
KO : Jangan2 ngeluyur ke mall

Laki-laki keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang pintar cari prospek dia

Perempuan keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang perempuan nggak bisa dipercaya

Foto keluarga di meja laki-laki
KO : Hem. . . bapak teladan dan setia

Foto keluarga di meja perempuan
KO : Ah. . . dia sich emang mentingin keluarga dari pada kerjaan. . .

Laki - laki nongkrong di depan komputer
KO : Memang klo ide sedang datang suka lupa waktu

Perempuan nongkrong di depan komputer
KO : Wah. . . kayak laki-laki aja...

Laki-laki selingkuh
KO : Memang kodratnya....

Perempuan selingkuh
KO : Idiiiiiihhhh amit-amit....

Laki-laki bujang usia tiga lima
KO : Matang

Perempuan bujang usia tiga lima
KO : Perawan tua. . .

Laki-laki banyak temen lawan jenis
KO : Pasti humoris, enak diajak ngomong, pantes diajak jalan

Perempuan banyak teman lawan jenis
KO : Piala bergilir. . .

Laki-laki dapet promosi jabatan
KO : Emang kalo prestasi bagus rejeki nggak kemana

Perempuan dapat promosi jabatan
KO : Ssssttt.... Bos ada mau. 

Minggu, 20 November 2011

Selasa, 08 November 2011

Kata Mas Bambang: Jangan Terlalu Arogan Jadi Dosen, Nanti GONDOK Sendiri

Pak Nazra terkenal sebagai Dosen yang galak. Suatu hari beliau mengajak diskusi dengan melempar pertanyaan,


 “Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD45?”


Karena mungkin kelas tegang, tak ada seorang muridpun yang mau mulai memberi komentar atau menjawab.

Selang beberapa menit kelas masih diam, Pak Nazra menunjuk Si Abang, mahasiswa kritis stadium 4.

“Bang! Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD 45?”

Dengan tegas Si Abang menjawab, “Baik-baik aja, Pak!”

Senin, 07 November 2011

Menyoal Janda, Keperawanan, dan Politisi

Seorang "Janda" yang sudah 3 kali kawin-cerai periksa di dokter kandungan. Waktu dokter mau periksa dalam, terjadi percakapan.

Janda : "Hati-hati periksanya ya dok, saya masih 'perawan' lho ...!"

Dokter: "Lho? Katanya ibu sudah kawin-cerai 3 kali, mana bisa masih perawan ...?"

Janda : "Gini lho dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten."

Dokter: "Oh gitu, tapi suami ibu yang ke-2 gak impoten kan?"

Janda : "Betul dok, cuma dia gay, jadi saya gak diapa-apain sama dia."

Dokter: "Lalu suami ibu yang ke-3 gak impoten dan bukan gay kan?"

Janda : "Betul dok, tapi ternyata dia itu orang 'partai politik'...."

Dokter: "Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu ...?"

Janda : "Dia cuma janji-janji saja dok, 'gak pernah direalisasikan!!!"

Dokter: "?!?!?!?!????"

Sabtu, 05 November 2011

Pesan Manajer Lama

Seorang calon manajer menghabiskan satu minggu di kantor baru bersama manajer yang akan dia gantikan. Pada hari terakhir manajer lama berangkat dan berpesan, "Aku telah meninggalkan tiga buah amplop di laci meja. Buka amplop jika Anda menghadapi krisis yang tidak bisa dipecahkan..."


Tiga bulan kemudian ada drama besar, semuanya berjalan salah - dan manajer merasa sangat terancam oleh semua itu. Dia ingat kata-kata perpisahan dari pendahulunya dan membuka amplop pertama. pesan di dalamnya mengatakan "Salahkan pendahulu Anda!" Dia melakukannya dan akhirnya bebas.

Sekitar setengah tahun kemudian, perusahaan ini mengalami penurunan drastis dalam penjualan, digabungkan dengan masalah produk yang serius. Manajer cepat membuka amplop kedua. Pesan itu berbunyi, "Reorganisasi!" Dia akhirnya melakukannya, dan perusahaan pulih dengan cepat.

Tiga bulan kemudian, pada krisis berikutnya, ia membuka amplop ketiga. Pesan di dalamnya mengatakan "Siapkan tiga amplop..."

Jumat, 04 November 2011

Tips Sukses Wawancara Kerja

Berikut ini ada beberapa tips sukses saat interview kerja, di antaranya adalah:
  1. Duduklah dikursi pelamar, jangan minta dipangku HRD hanya untuk menunjukkan bahwa anda  adalah orang yang mudah bergaul

  2. Pingsan bukan pilihan terbaik menghindari pertanyaan, kecuali anda adalah artis yang sedang menghadiri Bukan Empat Mata.

  3. Saat bingung menjawab pertanyaan jangan teriak: "Mohon dibantu yaaa, prok prok prok..."

  4. Ketika ditawari gaji awal jangan berkata "Naikin ato pilih tirai nomor 4!"

  5. Kalau sudah tidak kuat dengan pertanyaan interview, jangan mencoba mencari kamera dan melambai-lambai.

  6. Membantu ibu pergi ke pasar bukanlah pengalaman marketing yang patut untuk diceritakan.

  7. Jawab pertanyaan susah dengan: "Bagus... pertanyaan bagus. Menurut anda sendiri bagaimana?"

  8. Jangan menekan bibir sang interviewer dengan telunjuk dan berbisik: "Aku tahu apa maumu..."

  9. Saat ditanya pengalaman, jangan dijawab dengan "Maaf pak, saya ga mau inget-inget masa lalu saya, perih rasanya..." (berpaling muka).

  10. Pada saat hening, jangan memecahkan gelas. Pertama anda bukan Dian Sastro. Kedua yang beresin siapa entar?

  11. Meskipun yang interview itu teman, tidak perlu kita "Woy cuy, elu yg interview? Hahay, abis ini kita clubbing yuk!?"

  12. Mencukur kumis hendaknya dilakukan sebelum interview jangan pada saat interview.

  13. Kalau ditanya: "Bagaimana seandainya kamu gagal dalam pekerjaan ini?" jawab: "Ya ga papa pak, kesempurnaan ini hanya milik Allah..."


Selamat Mencoba...

Selasa, 25 Oktober 2011

Menyoal Mahasiswa Perokok ; Reputasi dan Uang yang 'Tergadai'

Asap itu kian tebal. Menari-nari diudara seiring dengan mengawang-awangnya pikiran, imajinasi, khayalan, dan inspirasinya. Hisapannya semakin dalam. Hisapan yang khas ala perokok dan sesempurnanya tarikan nafas. Tiupannya beragam. Ke atas berarti sedang bahagia dan selesai dari satu pekerjaan. Ke bawah berarti sedang berfikir keras dan atau bersedih. Mendatar berarti belum sarapan. Ke samping berarti sedang mencari solusi atau menghormati kolega sebelah. Jari-jarinya semakin terampil, bibirnya semakin hitam. Satu hal yang tidak disadarinya, predikatnya sebagai mahasaiswa, predikatnya sebagai kaum berpendidikan.

Ada kontradiksi mendalam. Rokok dan perokok memiliki reputasi buruk, terutama yang terjadi pada kalangan berpendidikan. Cerminannya ada pada kode etik mahasiswa dan dosen, contohnya. Dimana rokok adalah hal yang terlarang di kampus, di fakultas, terlebih di kelas. Tidak pantas rokok dan perokok mengotori kampus, fakultas, terlebih kelas, begitulah anggapannya selama ini.

Ada lagi anggapan negatifnya. Bukan lagi kesehatan yang sudah “tidak mempan” untuk “menakut-nakuti” para mahasiswa perokok. Kebiasaan buruk yang membawa sugesti yang seakan bermuatan positif. Penghromatan dan penghargaannya kepada orang-orang sekelilingnya seakan ia nafikan, hanya demi sebatang rokok. Terlebih kehormatan dan reputasinya sendiri. Ia nafikan pula kesetiaan hati pacarnya demi memuaskan dirinya sendiri hanya dengan rokok. Pacarnya ia biarkan kecewa dengan perilaku merokoknya.

Ada lagi satu hal yang amat kasap mata dan rasional. Rupiah demi rupiah ia keluarkan hanya untuk mendapatkan rokok. Uang jajan yang sebenarnya orang tuanya berikan untuk makan, minum, fotokopi dan bensin, ia hamburkan untuk membeli rokok. Tentunya bukan ini yang orangtuanya harapkan. Bayangkan, jika Rp 12.000 sehari ia manfaatkan untuk hal lainnya, tentunya akan lebih bermakna dan berbekas rasanya. Terlebih jika ia tabungkan selama sebulan, ia jadikan uang iddle, niscaya hampir setengah juta rupiah ia dapat kumpulkan per bulannya. Enam bulan, ia sudah mampu membeli laptop dengan uangnya sendiri. Dua tahun, ia telah mampu membeli motor hanya dengan menyisihkan uang jajannya. Angka-angka yang fantastis dan rasional. Satu hal yang pasti, mustahil baginya kekurangan uang, tiris, minim dan bokek jika ia tidak merokok.

Tidaklah terburu-buru dan menafikan sisi lainnya. Adanya kemelut finansial ini hanya akan terjadi pada mahasiswa perokok yang masih menerima “sedekah” dari kedua orang tuanya. Sikapnya dianggap tidak etis dan keji, ketika ia mengkhianati orang tua mereka dengan rokok. Memang, saya sendiri mengatakan tidak pantas dan tidak tahu diri.

Namun jika merokok dilakukan  oleh mahasiswa berpenghasilan, ini tidak menjadi persoalan. Terutama bagi mereka yang orang tuanya memberi kebebasan anaknya untuk merokok atau tidak. Hal ini terjadi pada saya. Ya, saya berpenghasilan dan saya merokok dari pengahasilan saya, bukan dari sedekah orang tua. Menarik bukan?

Selain anggapan negatif dan kemelut mahasiswa perokok, ada lagi sisi positif yang patut dilihat. Selama ini rokok yang dikatakan merusak paru-paru itu dianggap memiliki kekuatan dan energi tersendiri bagi kesegaran fikiran, kejernihannya, inspirasi brilian dan dalam hal perencanaan langkah. Hal ini benar adanya, tanpa direkayasa dan didramatisir seperti yang dilakukan penulis-penulis lainnya.

Rokok juga dapat menjadi penghubung silaturahmi yang paten untuk kalangan masyarakat tingkat ekonomi manapun, termasuk mahasiswa. Perkumpulan dan majelis apapun akan menjadi lebih cair dan intens dengan kehadiran rokok, dan tentunya perokok. Rokok juga dapat membangkitkan semangat hidup, sekarang maupun yang akan datang. Masih banyak yang lainya. Kedewasaan berfikir, kepercayadirian, dan kebijaksanaan menjadi hal diantaranya.

Ada satu hal yang luput dari reputasi buruk rokok dan perokok. Kiranya tidak sedikit perokok yang hidup bahagia, sukses dan melahirkan karya-karya brilian. Sebut saja Barrack Obama, Antasari Azhar, Musthofa Bisri,  Nudirman Munir, bahkan Nadratuzzaman, mereka adalah tokoh-tokoh yang merokok. Rokok tidak berimpilikasi buruk terhadap reputasi, kekayaan dan jabatan.

Satu lagi soal reputasi, citra dan pandangan publik. Itu kan hanya anggapan dan persepsi saja. Sadarkah ketika kita menonton berita di TV, berita-berita itu sangatlah sarat akan muatan persepsi dan spekulasi. Tidak ada persoalan tentang reputasi dan citra. Sama saja seperti spekulasi dan gosip yang terjadi secara makro.  Tidak juga mahasiswa yang tidak merokok lebih baik daripada mahasiswa perokok. Bukan begitu? –Mas Bambang Simanjuntak-

Minggu, 23 Oktober 2011

Betapa Moderatnya Islam Kita

“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu ummat pertengahan agar kamu menjadi saksi
 atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu”
(QS Al Baqarah – 143)

Seringkali Islam diragukan dan dimungkiri kemoderatannya. Lebih dari itu, ada saja pihak yang menentang secara keras bahkan radikal akan kemoderatan Islam. Seakan mereka menentang apa yang telah menjadi kodrat diutusnya agama Islam didunia ini. Bahkan lebih dari itu pula, seakan mereka tidak setuju, bahkan menentang keras apa yang telah tertulis dalam Al Quran -kitab yang ternyata juga mereka agungkan.

Kutipan ayat yang telah ditulis diawal menyatakan secara tersurat akan kemoderatan Islam. Moderat. Begitu penulis mengartikan kata-kata wasathon, yaitu pertengahan, dan kiranya tidak salah jika penulis mengatakannya sebagai moderat. Hanya saja tentunya ada makna-makna tersirat dibalik ayat yang sekilas begitu gamblang dan tersurat ini.

Cerita punya cerita, seorang ulama masyhur masa kini mencoba untuk menguak apa yang tersirat dalam kata wasathon tersebut. Ialah Syaikh Yusuf Al Qardhawi dalam salah satu kitab fenomenalnya, dari banyak kitab-kitab fenomenal karyanya. Ialah kitab “Al Khashais Al ‘Amah Li Al Islam”, sebuah kitab masyhur dikalangan akademisi. Beliau menemukan empat perkara yang tersirat dalam kata wasathon, yang selama ini disebut-sebut sebagai moderat dan seringkali diragukan serta dimungkiri kodratnya.

Pertama adalah wasathiyyah fi al ‘aqidah, yaitu kemoderatan Islam dalam aqidah, kepercayaan. Sejak zaman dahulu kala, telah ada fenomena golongan yang mempercayai keberadaan banyaknya Tuhan. Tuhan yang lebih dari satu. Tuhannya air, tanah, langit, udara, dan seterusnya. Bahkan dizaman modern seperti sekarang golongan seperti itu masih ada. Islam hanya mempercayai Allah sebagai pencipta langit, bumi, segala isinya dan kuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Tidak berarti Islam memungkiri adanya pencipta, seperti golongan yang kita kenal dengan sebutan atheis.

Yang kedua adalah wasathiyyah fi al ‘ibadah, yaitu kemoderatan Islam dalam ibadah. Ibadah-ibadah wajib dalam Islam tidak merusak urusan duniawi manusia. Manusia tetap dapat menjalankan urusan duniawinya tanpa meninggalkan ibadah yang telah menjadi kewajibannya. Keduanya saling beriringan dan mendukung satu sama lain. Tidak pula ibadah itu nihil dalam Islam.

Yang ketiga adalah wasathiyyah fi at tasyri’, yaitu kemoderatan Islam dalam pensyariatan, aturan dan batasannya. Islam tetap menjaga fitrah manusia. Syariat Islam tidak mengekang sifat-sifat fitrah manusia. Kalau boleh kita ambil contoh seperti Rahib dan Biksu misalnya, yang diatur dalam agama mereka tidak boleh melakukan pernikahan. Alhasil, tersebarlah spekulasi masiv atas perzinahan dikalangan mereka. Islam juga tidak membebaskan sebebas-bebasnya hawa nafsu manusia. Seperti misalnya budaya seks bebas di belahan bumi bagian Barat. Islam mempunyai batasan-batasan yang tentunya menjaga kemashlahatan manusia sendiri.

Yang terakhir adalah wasathiyyah fi al akhlaq, kemoderatan Islam dalam akhlak. Dalam Islam dikenal habl min Allah dan habl min an naas. Keduanya saling beriringan dan bersinergi. Dalam prakteknya pula, Islam mengenal toleransi dan pluralitas. Toleransi dalam hal habl min an naas, dan tidak pada hal-hal yang prinsip. Islam juga mengenal pluralitas, dan bukan pluralisme yang menyamakan semua agama.

Empat perkara itulah yang telah meluruskan pandangan dan substansi atas pemahaman kita terhadap kemoderatan Islam. Tidak ditemukan sama sekali dalam hal ini Islam yang moderat adalah Islam yang fleksibel, toleran dalam segala hal apalagi mengakui pluralisme. Islam itu wasathon, pertengahan, moderat. Ada keseimbangan antara hal-hal yang bertolak belakang yang telah dipaparkan diatas, bukan men-tarjih-nya. Ada kebebasan dan batasan, bukan membebaskan sebebas-bebasnya. Ada juga sinergi antara keduanya, bukan memisahkannya. Batapa moderatnya Islam kita!

Titi Kolo Mongso

Titi Kolo Mongso, saya bertemu seorang sarjana fresh graduate. Ia adalah lulusan pakultas ekonomi universitas swasta terkemuka –mahal- di ibukota. Kami berbincang-bincang dengan sangat intens hingga serius, bahkan krusial. Kiranya topik yang kami bicarakan sudah barang tentu dapat ditebak. Ya, pembicaraan yang memang krusial menurut saya.

Bahwasannya masa kuliahnya selama 8 semester telah membawanya menjadi seorang berpendidikan dan terdidik tentunya. Kini  dengan bangganya ia menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Yang lebih fantastis, ia lulus dengan IPK 3,77! Namun, kebanggaannya bukanlah berarti segalanya dalam hidupnya. Masa perjuangan saat kuliah ; pulang-pergi setiap harinya demi kuliah, energi, pikiran, waktu, biaya uang dan kesempatan yang telah ia keluarkan segalanya saat itu kini terasa lenyap tak berbekas, hampa penuh penyesalan, membawanya kepada ketidaktahuan yang nyata.

Bahwasannya ia tak tahu kini harus berbuat apa. Sudah di 14  perusahaan ia melamar pekerjaan, namun satupun dari perusahaan tersebut tak menerimanya. Entah mengapa, padahal ia terkenal kutu buku, pelanggan utama perpustakaan, jawara di setiap mata kuliah, bahkan sumber contekan terpercaya teman-temannya. Ironis. Mungkin karena 14 itu angka sial.

Bahwasannya proses interviewlah yang menurutnya telah membuatnya gagal pada setiap lamarannya. Ia mengakui sulit berbicara, menjawab, menjual kata-kata dihadapan interviewer. Ia merasa kurang cukup pengalaman untuk berkomunikasi. Satu point yang baik ketika ia menyadari kelemahannya. Menurut saya hal ini biasa saja. Maksud saya biasa terjadi pada mahasiswa “kepinteran” yaitu pandai meganalisis - sulit beraksi, pandai membaca - sulit bicara, pandai mengajari – dan sulit baginya untuk “merasa diajari”.

Kisah diatas membawa saya kepada sebuah pertanyaan. Yaitu apa yang bisa dilakukan untuk maksimal di bangku perkuliahan dan kehidupan yang baik setelah lulus? Saya lebih condong kepada ide berwirausaha, berdagang, berjualan saat kuliah, saat menjadi mahasiswa. Tentunya hal ini menjadi pilihan ngaco saya setelah mempertimbangkan dua hal. Pertama, berorganisasi yang hanya menjebloskan IPK ke liang lahat, mempertumpul otak dan melestarikan budaya korupsi. Kedua, magang (kerja sambilan) yang hanya memakan energi dan pikiran lebih, serta menumbuhkembangkan sifat rendah diri dan pesimistis.

Berbeda dengan sebagian orang disana, “berdagang” saat kuliah (karena terlalu mini untuk dikatakan dengan redaksi “bisnis”) bagi saya bukanlah mata pencaharian. Mengingat saya telah memiliki mata pencaharian lain untuk sekedar makan, bensin, rokok, dan fotokopi makalah. Satu hal yang pasti, bukanlah “sedekah” (red) dari orang tua yang saya jadikan mata pencaharian. Menurut saya, berdagang saat kuliah adalah sarana mencari pengalaman. Berinteraksi dengan orang banyak, menghadapi konsumen galak/rewel/aneh/lebay/ngondek, mengetahui pasar dan pangsanya, belajar rendah hati, berkata-kata, berkomitmen, dan sebagainya.

Namun, dibalik semua ini, ada beberapa kontroversi dan dilema kontradiktif yang terspekulasi disekitar kita. Bahwasannya mahasiswa pintar hingga kepintaran adalah calon manusia gagal. Data dari pikiran ngawur saya berkesimpulan bahwa penyebabnya adalah terlalu banyaknya pertimbangan dan analisis dalam hidupnya, sulitnya bekerjasama, memberi kepercayaan dan wewenang kepada orang, dan proyeksi berlebihan dan sesat yang membawanya kepada ketidakpercayadirian dan ketakutan besar akan kegagalan. Semua ini adalah sebab dari berlebihannya kepintaran akademis dan logika yang dimilikinya.

Bahwasannya pula dikatakan mahasiswa bodoh hingga kurang pintar adalah calon pebisnis sukses. Masih dari pikiran ngawur saya, penyebabnya adalah kekurangpintaran di sisi akademis yang memaksanya untuk berbisnis, tidak banyaknya opsi dan ide bisnis yang bergentayangan di pikirannya, IP dan IPK kurang besar yang melatihnya untuk tidak minder saat jatuh dari bisnisnya.

Dua hal diatas hanyalah sebatas provokasi nyeleneh dari pikiran saya yang hanya akan membuat anda bingung, mengurut dada dan gelenggeleng kepala  setelah membacanya.  Sebagai cooling down saya ingin katakan dua hal lagi yang tentunya semakin ngawur. Pertama,  berdaganglah sambil kuliah untuk meminimalisir terjadinya hal seperti kisah di awal. Karena kurangnya pengalaman untuk seorang sarjana semakin memperjelas kesuraman dan kegagalan di masa depan. Kedua, janganlah anda berdagang sambil kuliah untuk menghindari kegagalan di dua masa, yaitu masa kuliah hingga masa depan. Karena bukankah hidup ini butuh konsentrasi, fokus? Dan bukankah serabutan itu hasilnya tidak maksimal?

Lalu, apa yang bisa dipetik dari tulisan ngawur ini? Jawabannya adalah Titi Kolo Mongso (Titi kolo Mongso = Pada Suatu Ketika). -Mas Bambang Simanjuntak-

Senin, 11 Oktober 2010

MENYOAL POLIBRITI

Sebuah kata yang agaknya asing di pendengaran khalayak umum. Ialah gabungan dari kata politisi dan selibriti. Dimana saat ini tengah mengantri sederet nama selibriti untuk mengikuti PILKADA di beberapa tempat di Indonesia. Langkah mereka yang dianggap banting stir ini menuai berbagai kontroversi. Seperti ada yang aneh jika seorang selebritis yang bergelimang kemewahan, hidup dalam kesenangan duniawi, berpenghasilan jauh lebih besar dan lebih terkenal dari sekedar seorang kepala daerah tertentu, lalu merubah alur hidupnya menjadi seorang politisi dan mencalonkan diri untuk jabatan tertentu pula. Lalu, bukankah merupakan sebuah keanehan yang teramat nyata ketika seorang yang pernah menduduki jabatan tertentu dan dinyatakan gagal  bahkan membuat banyak permasalahan baru, kembali mencalonkan diri untuk jabatan itu atau jabatan lainnya?

Fenomena polibriti memang bukan hal baru di negeri ini. Hanya saja masih menuai kontroversi bahkan debat kusir dari berbagai pihak. Fenomena ini tidak seharusnya diperlakukan layaknya sebuah hal yang aneh, bahkan tidak senonoh. Selama ini artis dianggap tidak mengerti dunia politik. Dianggap bodoh untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dan tidak layak dijadikan pemimpin.

Semua kita menyetujui bahwa masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat primitif dan tidak berintelektualitas. Berapa banyak orang pintar dan berpendidikan tinggi di negeri ini hanya menjadi seorang dosen, guru besar atau penasehat pada lembaga-lembaga tertentu. Lalu berapa banyak orang yang lebih pintar dan lebih berpendidikan dari seorang presiden di negeri ini. Seorang pemimpin tidaklah harus lebih pintar dari rakyatnya. Nyatanya, kita ketahui bersama bahwasannya ada saja lulusan sekolah menengah yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Lalu apakah serta-merta negeri ini hancur begitu saja? Kiranya keberadaan kita saaat ini jawabannya.

Pernyataan tak berdasar bahwasannya selebritis tidak layak menjabat kiranya patut diwaspadai. Tunggangan-tungangan tertentu dari beberapa pihak yang tidak senang di mata masyarakat menjadi tuduhan utamanya. Biasanya pihak ini adalah kelompok yang hanya mengatasnamakan golongan tertentu. Mereka gerah jikalau popularitas artis dapat menarik suara yang begitu besar. Hal ini merupakan sebuah bukti nyata egoisme mereka. Negara ini bukanlah sekedar untuk sebuah golongan. Negara ini Bhinneka Tunggal ika. Tidak mesti golongan tertentu saja yang bisa menjadikan negeri ini makmur. Nyatanya sudah berbagai macam orang nomor satu di negeri ini, tetap saja kita merasakan dan menyaksikan betapa sulitnya hidup  di negeri ini. Mulai dari kalangan militer tingkat tinggi, seorang cendekiawan, kyai, negarawan, pengusaha sampai kalangan militer tingkat menegahpun tetap saja Indonesia adalah Indonesia yang seperti kita saksikan saat ini. Bahkan ironisnya, ketika negeri ini dipimpin oleh seorang dari kalangan militer, amatlah banyak kita saksikan berbagai permasalahan militer dan hukum.

Profesi selebritis yang menghibur masyarakat tidaklah patut untuk dijadikan ‘kambing hitam’ untuk menolak kehadiran mereka di dunia politik. Terlepas dari niat dan ambisi partai meraup suara sebanyak-banyaknya, menjadi politisi dan berpolitik adalah hak setiap warga. Seperti juga hak setiap manusia untuk menjadi dosen, karyawan, wartawan, polisi atau pengusaha dan sebagainya. Tentu bagi setiap pekerjaan ada resikonya masing-masing.

Resiko artis menjadi politisi adalah dicurigai, diremehkan, ditinggalkan penggemar. Biasa. Tetapi tentu bukan hal yang dilarang apabila seorang artis diam-diam punya gagasan bagus dalam membangun negara. Misalnya di bidang seni dan budaya. Lalu saat ia duduk di DPR, ia tuangkan ide-ide itu dalam undang-undang di komisi kebudayaan misalnya. Ada juga artis yang kuliah di bidang hukum, ekonomi, managemen dan sebagainya. Tentu ilmunya bisa dipakai saat menyusun undang-undang.


Kiranya tidak pantas jika kita menilai buruk sesorang sebelum berbuat. Bukankah prasangka buruk merupakan perbuatan yang tidak berkeadaban? Bahkan merupakan sebuah pelanggaran HAM jikalau ada pihak yang menghalang-halangi mereka meraih apa yang mereka mau dengan cara beropini tidak baik. Tentunya perlu persiapan-persiapan tertentu dari para selebritis yang memang telah memutuskan untuk mengubah jejak hidupnya untuk berkiprah di dunia politik dan untuk menduduki jabatan tertentu. Hendaknya kita berfikir secara jernih, positif dan luas. Bukan malah mudah diprovokasi, berbudaya taqlid, berprasangka buruk dan picik dalam pemikiran.