Tampilkan postingan dengan label Menohok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menohok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2011

"Best Before" atau "Expire"

Pada suatu hari, seorang pemuda memasuki sebuah toko yang dijaga oleh seorang pria. Pemuda itu melihat beberapa mi instan yang dijual murah dan melihat keganjilan disitu.

Pemuda : "Pak, mi instan ini best beforenya sudah lewat 1 bulan kok masih dijual juga?"

Paman : "oohh... itu kan best before, bulan ini masih better, terus bulan depan masih good. Jadi tidak masalah untuk dijual..."

Pemuda : "???".

Senin, 21 November 2011

Inilah Alasan Mengapa Laki-laki dikatakan "lebih" Dari Sekedar Wanita

KO : Komentar Orang

Meja kerja laki-laki berantakan
KO : Dia memang pekerja keras

Meja kerja perempuan berantakan
KO : Cewek apaan tuh? Ngerapiin meja meja aja nggak becus...

Laki - laki bekerja menikah
KO : Dia pasti akan bekerja lebih baik karena hidupnya bakalan lebih teratur

Perempuan bekerja menikah
KO : Deeuuuuuu.... paling entar habis hamil juga keluar dia...

Laki - laki ngobrol saat jam kerja
KO : Kalau udah ngomongin bisnis, lupa lunch

Perempuan ngobrol pada saat jam kerja
KO : Dasar tukang ngerumpi !!!

Laki-laki nggak ada di meja kerja
KO : Sedang tugas luar

Perempuan nggak ada di meja kerja
KO : Jangan2 ngeluyur ke mall

Laki-laki keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang pintar cari prospek dia

Perempuan keluar dapet pekerjaan baru
KO : Emang perempuan nggak bisa dipercaya

Foto keluarga di meja laki-laki
KO : Hem. . . bapak teladan dan setia

Foto keluarga di meja perempuan
KO : Ah. . . dia sich emang mentingin keluarga dari pada kerjaan. . .

Laki - laki nongkrong di depan komputer
KO : Memang klo ide sedang datang suka lupa waktu

Perempuan nongkrong di depan komputer
KO : Wah. . . kayak laki-laki aja...

Laki-laki selingkuh
KO : Memang kodratnya....

Perempuan selingkuh
KO : Idiiiiiihhhh amit-amit....

Laki-laki bujang usia tiga lima
KO : Matang

Perempuan bujang usia tiga lima
KO : Perawan tua. . .

Laki-laki banyak temen lawan jenis
KO : Pasti humoris, enak diajak ngomong, pantes diajak jalan

Perempuan banyak teman lawan jenis
KO : Piala bergilir. . .

Laki-laki dapet promosi jabatan
KO : Emang kalo prestasi bagus rejeki nggak kemana

Perempuan dapat promosi jabatan
KO : Ssssttt.... Bos ada mau. 

Kamis, 17 November 2011

Kamis, 10 November 2011

Abuse of Power

Nur Riyantoh adalah anak seorang pejabat kampus Universitas Internasional Nasional  yang bertugas sebagai Kepala Biro Keuangan. Kebetulan, Nur Riyantoh pun merupakan bendahara di sekolahnya.


Suatu hari, ia ketahuan menggunakan uang kelas itu untuk keperluan pribadi. Dipanggillah ia ke ruang guru.

Guru: "Mengapa kau gunakan uang itu untuk kepentinganmu sendiri? Padahal itu kan uang milik temanmu! Apakah kau sedang terdesak?"

Nur Riyantoh: "Tidak, Bu..."

Guru: "Lalu mengapa? (Nur Riyantoh hanya terdiam.) Cepat katakan! Jika tidak, akan saya laporkan kepada ayahmu!!"

Nur Riyantoh: "Laporin aja, Bu ..., toh ayah saya yang mengajarkan saya."

Selasa, 08 November 2011

Kata Mas Bambang: Jangan Terlalu Arogan Jadi Dosen, Nanti GONDOK Sendiri

Pak Nazra terkenal sebagai Dosen yang galak. Suatu hari beliau mengajak diskusi dengan melempar pertanyaan,


 “Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD45?”


Karena mungkin kelas tegang, tak ada seorang muridpun yang mau mulai memberi komentar atau menjawab.

Selang beberapa menit kelas masih diam, Pak Nazra menunjuk Si Abang, mahasiswa kritis stadium 4.

“Bang! Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD 45?”

Dengan tegas Si Abang menjawab, “Baik-baik aja, Pak!”

Senin, 07 November 2011

Menyoal Humor Dekan

Seorang Dekan Fakultas Sholat dan Haji kembali dari makan siang dalam kondisi mood yang sangat bagus dan memanggil seluruh Dosen untuk mendengarkan beberapa humor yang baru saja dia peroleh. Semua Dosen tertawa, kecuali seorang Doktor Ekonomi Islam yang tidak tertawa.


"Ada masalah apa?" keluh si boss, "apakah Ibu tidak memiliki selera humor?"

"Saya tidak perlu tertawa," kata Doktor Ekonomi Islam  itu "Saya mengundurkan diri hari Jumat ini..."

Kamis, 03 November 2011

Rencana Anggaran Belanja Universitas

Rektor sebuah Universitas Internasional Nasional berkata kepada dekan Fakultas Sains & Teknologi,

"Mengapa saya selalu harus memberikan kalian begitu banyak uang, untuk laboratorium dan peralatan yang mahal? Kenapa kau tidak bisa menjadi seperti Fakultas Syariah, semua yang mereka butuhkan adalah anggaran untuk pembelian buku, kertas, dan keranjang sampah."

Lanjutnya,

 "Atau bahkan lebih baik, seperti Fakultas Usuludddin saja! Yang mereka butuhkan adalah pensil dan kertas saja...!"

ISWANTRO Sulit Bangun Pagi

Iswantro sangat kesulitan untuk bangun pagi dan selalu terlambat sampai Fakultas. PUDEK-nya, GM Muslimat, memarahinya dan mengancam akan memecatnya jika ia tidak berusaha memerbaiki masalahnya itu.

Maka Iswantro pergi ke dokter langganannya, yang kemudian memberinya sebuah pil dan menyuruhnya untuk meminumnya sebelum ia tidur. Iswantro tidur sangat nyenyak, bahkan ia bangun 2 jam lebih awal dari waktu yang diaturnya pada jam alarm. Ia menikmati makan pagi yang enak dan berangkat kerja dengan ceria.

"Pak GM Muslimat," katanya, "Pilnya benar-benar bekerja!"

"Bagus kalau begitu," kata Pak GM Muslimat, "tapi kemarin kamu ke mana Is?"

Selasa, 25 Oktober 2011

Menyoal Mahasiswa Perokok ; Reputasi dan Uang yang 'Tergadai'

Asap itu kian tebal. Menari-nari diudara seiring dengan mengawang-awangnya pikiran, imajinasi, khayalan, dan inspirasinya. Hisapannya semakin dalam. Hisapan yang khas ala perokok dan sesempurnanya tarikan nafas. Tiupannya beragam. Ke atas berarti sedang bahagia dan selesai dari satu pekerjaan. Ke bawah berarti sedang berfikir keras dan atau bersedih. Mendatar berarti belum sarapan. Ke samping berarti sedang mencari solusi atau menghormati kolega sebelah. Jari-jarinya semakin terampil, bibirnya semakin hitam. Satu hal yang tidak disadarinya, predikatnya sebagai mahasaiswa, predikatnya sebagai kaum berpendidikan.

Ada kontradiksi mendalam. Rokok dan perokok memiliki reputasi buruk, terutama yang terjadi pada kalangan berpendidikan. Cerminannya ada pada kode etik mahasiswa dan dosen, contohnya. Dimana rokok adalah hal yang terlarang di kampus, di fakultas, terlebih di kelas. Tidak pantas rokok dan perokok mengotori kampus, fakultas, terlebih kelas, begitulah anggapannya selama ini.

Ada lagi anggapan negatifnya. Bukan lagi kesehatan yang sudah “tidak mempan” untuk “menakut-nakuti” para mahasiswa perokok. Kebiasaan buruk yang membawa sugesti yang seakan bermuatan positif. Penghromatan dan penghargaannya kepada orang-orang sekelilingnya seakan ia nafikan, hanya demi sebatang rokok. Terlebih kehormatan dan reputasinya sendiri. Ia nafikan pula kesetiaan hati pacarnya demi memuaskan dirinya sendiri hanya dengan rokok. Pacarnya ia biarkan kecewa dengan perilaku merokoknya.

Ada lagi satu hal yang amat kasap mata dan rasional. Rupiah demi rupiah ia keluarkan hanya untuk mendapatkan rokok. Uang jajan yang sebenarnya orang tuanya berikan untuk makan, minum, fotokopi dan bensin, ia hamburkan untuk membeli rokok. Tentunya bukan ini yang orangtuanya harapkan. Bayangkan, jika Rp 12.000 sehari ia manfaatkan untuk hal lainnya, tentunya akan lebih bermakna dan berbekas rasanya. Terlebih jika ia tabungkan selama sebulan, ia jadikan uang iddle, niscaya hampir setengah juta rupiah ia dapat kumpulkan per bulannya. Enam bulan, ia sudah mampu membeli laptop dengan uangnya sendiri. Dua tahun, ia telah mampu membeli motor hanya dengan menyisihkan uang jajannya. Angka-angka yang fantastis dan rasional. Satu hal yang pasti, mustahil baginya kekurangan uang, tiris, minim dan bokek jika ia tidak merokok.

Tidaklah terburu-buru dan menafikan sisi lainnya. Adanya kemelut finansial ini hanya akan terjadi pada mahasiswa perokok yang masih menerima “sedekah” dari kedua orang tuanya. Sikapnya dianggap tidak etis dan keji, ketika ia mengkhianati orang tua mereka dengan rokok. Memang, saya sendiri mengatakan tidak pantas dan tidak tahu diri.

Namun jika merokok dilakukan  oleh mahasiswa berpenghasilan, ini tidak menjadi persoalan. Terutama bagi mereka yang orang tuanya memberi kebebasan anaknya untuk merokok atau tidak. Hal ini terjadi pada saya. Ya, saya berpenghasilan dan saya merokok dari pengahasilan saya, bukan dari sedekah orang tua. Menarik bukan?

Selain anggapan negatif dan kemelut mahasiswa perokok, ada lagi sisi positif yang patut dilihat. Selama ini rokok yang dikatakan merusak paru-paru itu dianggap memiliki kekuatan dan energi tersendiri bagi kesegaran fikiran, kejernihannya, inspirasi brilian dan dalam hal perencanaan langkah. Hal ini benar adanya, tanpa direkayasa dan didramatisir seperti yang dilakukan penulis-penulis lainnya.

Rokok juga dapat menjadi penghubung silaturahmi yang paten untuk kalangan masyarakat tingkat ekonomi manapun, termasuk mahasiswa. Perkumpulan dan majelis apapun akan menjadi lebih cair dan intens dengan kehadiran rokok, dan tentunya perokok. Rokok juga dapat membangkitkan semangat hidup, sekarang maupun yang akan datang. Masih banyak yang lainya. Kedewasaan berfikir, kepercayadirian, dan kebijaksanaan menjadi hal diantaranya.

Ada satu hal yang luput dari reputasi buruk rokok dan perokok. Kiranya tidak sedikit perokok yang hidup bahagia, sukses dan melahirkan karya-karya brilian. Sebut saja Barrack Obama, Antasari Azhar, Musthofa Bisri,  Nudirman Munir, bahkan Nadratuzzaman, mereka adalah tokoh-tokoh yang merokok. Rokok tidak berimpilikasi buruk terhadap reputasi, kekayaan dan jabatan.

Satu lagi soal reputasi, citra dan pandangan publik. Itu kan hanya anggapan dan persepsi saja. Sadarkah ketika kita menonton berita di TV, berita-berita itu sangatlah sarat akan muatan persepsi dan spekulasi. Tidak ada persoalan tentang reputasi dan citra. Sama saja seperti spekulasi dan gosip yang terjadi secara makro.  Tidak juga mahasiswa yang tidak merokok lebih baik daripada mahasiswa perokok. Bukan begitu? –Mas Bambang Simanjuntak-